Bogor, 18 Juni 2026 – BLST menerima kunjungan calon investor asal Tiongkok, Tianjin Dredging, yang merupakan bagian dari China Communications Construction Company (CCCC), dalam rangka menjajaki peluang kerja sama pengembangan proyek strategis yang berpotensi mendukung sektor industri dan ketahanan pangan nasional.
Pertemuan yang berlangsung di ruang mahoni BLST dihadiri oleh Direktur BLST, Luhur Budiyarso, Deputi Agromaritim BLST, Wahyudi, beserta tim Agromaritim BLST. Dari pihak Tiongkok hadir perwakilan Tianjin Dredging yang memaparkan berbagai potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama.
Tianjin Dredging menyampaikan bahwa perusahaan telah memiliki lahan reklamasi seluas 113 hektare di Pulau Karimun, Kepulauan Riau, sejak tahun 2017. Lahan tersebut memiliki kedalaman pelabuhan sekitar 12–15 meter yang semula direncanakan untuk pengembangan galangan kapal. Namun, akibat perubahan regulasi di Tiongkok, rencana operasional tersebut belum dapat direalisasikan.
Sebagai bagian dari China Communications Construction Company (CCCC), salah satu kelompok perusahaan milik negara terbesar di Tiongkok yang bergerak di bidang infrastruktur, Tianjin Dredging memiliki fokus bisnis pada reklamasi, pembangunan pelabuhan, konstruksi sipil, serta pengembangan agribisnis dan ketahanan pangan.
Dalam bidang pertanian, pihak Tianjin tengah mengembangkan berbagai inovasi, antara lain penelitian pupuk organik untuk mendukung ketahanan pangan serta pengembangan varietas padi yang mampu ditanam di wilayah gurun. Uji coba telah dilakukan di kawasan Sahara, meskipun aspek keekonomian masih terus dikaji. Selain itu, pengembangan komoditas hortikultura seperti durian juga telah dilakukan di Provinsi Hainan, Tiongkok.
Pada kesempatan tersebut, BLST dan Tianjin Dredging mendiskusikan peluang pemanfaatan lahan seluas 113 hektare di Karimun sebagai hub pengembangan proyek refinery Crude Palm Oil (CPO) dan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Konsep pengembangan yang direncanakan mencakup rantai nilai terintegrasi mulai dari hulu hingga pembangunan fasilitas refinery.
Untuk mendukung penjajakan kerja sama tersebut, beberapa aspek yang masih perlu didalami meliputi konsep kerja sama, kontribusi modal masing-masing pihak, skema pembagian hasil, analisis produksi mulai dari tandan buah segar (TBS) hingga menjadi avtur berbasis SAF, jangka waktu kerja sama, serta identifikasi calon pengguna akhir (offtaker) produk.
Selain proyek SAF, pihak Tianjin juga menawarkan peluang pengembangan lainnya, termasuk ekspansi Pelabuhan Bitung dengan konsep terintegrasi mulai dari penangkapan, pengolahan, hingga pemasaran hasil perikanan.
Melalui pertemuan ini, BLST berharap penjajakan dengan Tianjin Dredging dapat membuka peluang kolaborasi yang saling menguntungkan dalam pengembangan industri berkelanjutan dan ketahanan pangan, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional.



